Kado Awal Tahun Yang Membuat Masyarakat Menjerit

by
Eqi Fitri Marehan S. ikom

FKB News, BANGKA – Lonjakan harga pangan global diperkirakan akan ikut terasa sampai ke Indonesia. Mengingat Tahun baru 2022 tinggal menghitung beberapa saat saja, melansir situs Bisnis. Com, Pengamat ekonomi menilai dampak kenaikan harga kebutuhan pokok atau sembako

Harga sejumlah barang sembako naik menjelang pergantian 2021 ke 2022. Secara rata-rata, kenaikan harga sembako di akhir tahun mencapai 0,55 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pengamat Kebijakan Publik Narasi Instutute Achmad Nur Hidayat menilai sebenarnya kenaikan harga sembako dibisa diimbangi dengan penyaluran dana bantuan sosial (bansos) yang baik. Hal ini guna membantu masyarakat berpendapatan bawah.

Namun, di sisi lain, dia menilai penyaluran bansos oleh Kementerian Sosial masih memiliki masalah dasar di antaranya adalah data penerima bansos atau Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tidak sepenuhnya valid. Selain itu, keberadaan mitra penyaluran bansos tidak merata di sejumlah tempat sehingga pembagian tidak merata ke wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal [3T].

Kenaikan harga ini lebih tinggi dari prediksi Bank Indonesia (BI) sebesar 0,45 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan harga sembako utamanya terjadi pada harga cabai, telar ayam, daging dan minyak goreng. Berdasarkan informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit merah yang melonjak sampai 130,97 persen dalam satu bulan, ke harga Rp86.500 per kilogram.

Selain itu, cabe rawit hijau melesat 54,71 persen menjadi Rp57.400 per kilogram; minyak goreng naik 7,43 persen; gula naik 0.76 persen; daging ayam segar naik 1,42 persen; dan telur ayam naik 3,56 persen.

Kenaikan harga bahan barang-barang pokok (kebutuhan primer) pasca kenaikan harga gas LPG nonsubsidi, dilansir situs resmi kompas TV, Sabtu (25/12/2021) kemarin. Kenaikan rentang harga LPG bervariasi antara Rp1.600 – Rp2.600 per kilogram. seperti yang terjadi sekarang merupakan dampak yang menghindar dari kebijakan tersebut yang tersering kali masyarakat megeluh mengenai hal ini.

Melansir dari laman Pertamina Delivery Service (PDS) pds135.com ini daftar harga elpiji nonsubsidi terbaru yang mencakup Bright Gas 5,5 kg, Bright Gas 12 kg, Elpiji 12 kg.

– Bright Gas 5,5 kilogram (refill): Rp76.000 per tabung

– Bright Gas 5,5 kilogram (perdana): Rp306.000 per tabung

– Bright Gas 12 kilogram (refill): Rp163.000 per tabung

– Bright Gas 12 kilogram (perdana): Rp513.000 per tabung

Kenaikan harga barang pokok atau kebutuhan primer serta kenaikan LPG ini dapat dikatakan masalah ekonomi makro yang sangat dirasakan oleh masyarakat ekonomi kalangan menengah dan bawah. Karena masalah yang timbul disini terjadi pada masyarakat luas yang ada diindonesia, yang tidak hanya satu daerah saja, namun keseluruhan daerah yang ada di Indonesia sedikit banyaknya pada masyarakat yang kurang mampu merasa resah dengan kebijakan ini, mungkin bagi masyarakat menengah keatas tidak terkejut dan biasa saja menanggapi hal ini, namun, bagi masyarakat menengah ke bawah mereka kesusahan dalam memperoleh kebutuhan pokoknya serta LPG untuk sehari-hari.

Kenaikan harga bahan pokok dan LPG ini tersering memang mengakibatkan dampak , mengapa demikian? Karena bahan pokok disini berperan paling utama dalam kehidupan yang tak lain pendamping untuk kelangsungan hidup manusia sehingga tersering juga mengakibatkan daya beli masyarakat yang kurang, serta LPG merupakan sumber daya yang sangat penting untuk kebutuhan memasak sehari-hari

Harga bahan pokok terus meroket dan terus menerus hal ini menimbulkan masalah, namun semua keputusan itu kembali pada pemerintah yang menangani dampak ini.

Kenaikan harga LPG ini sangat merugikan dan meresahkan masyarakat yang memiliki pendapatan rendah ataupun tetap karena jika konsumen dapat meningkatkan penghasilannya maka dengan penghasilan mereka dapat memenuhi kebutuhannya yang berkurang akibat kenaikan harga itu. Mengingat kesejahteraan itu relative sifatnya maka walaupun ada penggantian konsumsi terhadap barang-barang maka bila konsumen memiliki konsep kesejahteraan akibat kenaikan harga LPG dapat teratasi.

Dapat disimpulkan bahwa kenaikan harga barang terutama bahan pokok serta LPG disini dapat mempengaruhi kesejahteraan konsumen dan produsen sekaligus pemerintah. Kenaikan harga dapat pula berdampak dan menyebabkan efek buruk terhadap masyarakat, baik kalangan menengah ke awah maupun kalangan menengah ke atas. Ketidaksetujuan masyarakat terhadap inflasi dapat di salurkan dengan beberapa cara. Contohnya adalah aksi unjuk rasa. Jika kebutuhan pokok tidak dapat terpenuhi maka kelangsungan hidup manusia akan terlambat. Maka sebaiknya jika akan melakukan inflasi masyarakat sebaiknya terlebih harus mempertimbangkan dahulu kondisi dan kesanggupan masyarakat menerima atau tidaknya akan keputusan yang di rencanakan pemerintah. Jika tidak, maka pemerintah akan mengganggu akibat dari rencananya itu. Maka dari itu pemerintah harus mempertimbangkan dahulu yang demikian agar tidak tercipta kerusuhan. Bukankan suasana damai lebih tentram dari pada harus terjadi pertentangan.

Penulis : Eqi Fitri Marehan S. ikom
Anggota Atpusi Kab Bangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.