Pasca TI Apung Tembelok Distop, Masyarakat Tunggu Duit dari Panitia

by -
Caption: Tumpukan pasir timah dalam kemasan karung hasil produksi TI Apung di Perairan Tembelok, Mentok.

FKBnews.com, MENTOK, — Masyarakat Kampung Mentok Asin, nelayan dan sekitarnya Kelurahan Tanjung Kecamatan Mentok Kabupaten Bangka Barat mulai menyinggung soal dana kompensasi dari panitia pasca diberhentikannya aktifitas TI Apung Tembelok oleh aparat tim gabungan, Selasa, (11/4/2023).

Menurut mereka sejak aktifitas TI Apung Tembelok berjalan, total ada sekitar empat hari produksi pasir timah yang dihasilkan. Jumlah dana masyarakat yang berhasil dikumpulkan ini diperkirakan cukup besar mengingat hasil produksi pasir timah yang diperoleh sangat banyak dan selama aktifitas dana ini belum pernah dibagikan ke masyarakat.

Sementara bagi masyarakat yang tergabung dalam kepanitiaan, per tiga hari kemarin mereka sudah menikmati besarnya Rp 1.500.000 per panitia.

“Kita masyarakat belum kapan dibagikan kita dak tahu padahal aktifitas sudah distop sambil nunggu izin keluar, ” ujar warga Mentok Asin yang enggan disebutkan namanya.

Perkiraan berdasarkan kesepakatan kata sumber ini pembagian dana kompensasi TI Apung Tembelok ini, untuk masyarakat sekitar Rp. 1000 per kilogram, panitia Rp. 6000. Dana ini pembagiannya masih disisihkan untuk masjid, pesantren dan lain-lain.

“Kira-kira kalau nggak salah seperti itu pembagiannya, ” ujar warga ini.

Sementara itu, sehari pasca razia gabungan digelar, Rabu, (12/4/2023), tak terlihat lagi aktifitas TI Apung Tembelok oleh para penambang.

Ratusan ponton terlihat digeser menepi ke pinggir pantai. Tak terlihat lagi kerumunan masyarakat yang berarti berbeda pada saat tim gabungan turun jumlah masyarakat yang berkumpul hampir sekitar ribuan orang.

Sayangnya FKBnews belum berhasil mengonfirmasi perwakilan panitia TI Apung Tembelok termasuk ketua RT setempat terkait kepastian porsi pembagian dana TI apung ini di masyarakat.

Sempat Viral di Medsos

Seperti sebelumnya diberitakan, setelah sempat jadi perbincangan dan viral di sejumlah media sosial (medsos), aktifitas tambang timah (TI) jenis ponton apung selam di perairan Tembelok Kecamatan Mentok Kabupaten Bangka Barat akhirnya dihentikan, terhitung, Selasa, (11/4/2022).

Tindakan tegas diambil menyusul razia gabungan terdiri dari Camat Mentok beserta tim yakni Satpol PP, Sat Polair, TNI AL, Kodim 0431 Babar serta Polres Bangka Barat saat turun langsung atas perintah Bupati dan Wakil Bupati Bangka Barat dengan mendatangi lokasi pantai.

Camat Mentok, Sukandi dalam arahannya kepada panitia TI Apung Tembelok meminta agar kegiatan tersebut dihentikan karena ilegal sambil menunggu tindak lanjut rapat bersama Forkominda untuk mencari solusi.

Sebab kalau berdasarkan data, perairan laut Tembelok kata Sukandi masuk dalam kuasa penambangan (KP) pemerintah daerah.

Oleh karena Sukandi meminta hari itu juga seluruh ponton yang terlihat di perairan laut Tembelok agar meninggalkan perairan sebab kalau dibiarkan kuatir malam hari para penambang masih bekerja.

Kalau masih terlihat ponton di wilayah perairan tersebut kata Sukandi, aparat penegak hukum yang terpaksa akan menindak tegas.

Pihaknya kata Sukandi masih berbaik hati tidak menahan pasir-pasir timah dalam kemasan karung sebagai barang bukti di lokasi pantai tersebut.

“Kalau masih ada pontonnya tidak tahu kita (kalau mereka) bekerja malam hari. Tidak ada ponton yang parkir di sini, itu kami datang hari ini minta tolong kerjasamanya, ” tegas Sukandi.

Sementara itu pantauan Forumkeadilanbabel.com (FKBnews.com), saat razia gabungan digelar, ribuan masyarakat dan juga penambang tampak memadati sekitar pantai perairan Tembelok namun tak melalukan aktifitas menambang. Tumpukan karung yang berisikan biji timah tampak di pinggiran pantai dan bersiap akan dimuat ke kendaraan pengangkut.

Aktifitas penambangan ini sebelumnya sempat menjadi buah bibir dan viral di sejumlah medsos karena produksi timahnya yang cukup banyak yang dihasilkan dari ratusan ponton selam para penambang.

Camat Mentok sendiri mengaku baru mengetahui kegiatan ini setelah tiga hari sementara aktifitas penambangan dilakukan sudah hampir satu minggu ini. (Tim).